Profesor Kehormatan untuk Haikal Hassan, Kebanggaan Baru Indonesia di Tahun 2026

by Penulis, 23 Jun 2026
Busan — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hassan, resmi dianugerahi gelar Profesor Kehormatan (Professor Emeritus) oleh Silla University pada pertengahan Juni 2026. Penghargaan akademik bergengsi ini menjadi salah satu pencapaian penting yang menandai semakin kuatnya posisi Indonesia dalam diplomasi halal global.

Penganugerahan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Haikal Hasan dalam memperkuat dan mengembangkan ekosistem halal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Perannya dinilai signifikan dalam mendorong standar halal yang lebih terintegrasi melalui kerja sama lintas negara, penguatan riset, serta pengembangan sistem jaminan produk halal yang lebih modern.

Bagi Indonesia, penghargaan ini tidak hanya bermakna simbolik bagi seorang tokoh, tetapi juga menjadi refleksi meningkatnya pengaruh Indonesia dalam industri halal dunia. Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap produk yang aman, higienis, dan berkualitas, halal kini berkembang menjadi standar universal yang diakui lintas negara dan budaya.

Haikal Hasan, yang akrab disapa Babe Haikal, menerima penghargaan tersebut dalam rangkaian agenda akademik dan kerja sama internasional bersama Silla University serta BIC Halal Korea. Dalam forum tersebut, halal tidak lagi diposisikan sebatas regulasi administratif, tetapi sebagai disiplin ilmu yang melibatkan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Pengakuan Dunia Akademik terhadap Indonesia

Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap kontribusi Indonesia dalam penguatan sistem jaminan produk halal. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam membangun standar halal yang dapat dijadikan rujukan global.

Di bawah kepemimpinan Haikal Hassan, BPJPH tidak hanya fokus pada aspek sertifikasi, tetapi juga memperluas kerja sama internasional, memperkuat kelembagaan, dan meningkatkan kualitas SDM halal. Upaya ini menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan industri halal global.

Pihak Silla University menilai bahwa kontribusi tersebut berhasil memperluas pemahaman tentang halal sebagai konsep yang mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan, minuman, kosmetik, farmasi, hingga rantai pasok global.

Dalam konteks modern, halal tidak lagi hanya dipahami sebagai label keagamaan, melainkan sebagai standar kualitas yang menekankan transparansi, keamanan, dan kepercayaan konsumen.

Halal sebagai Konsep Universal

Dalam pidato penerimaannya, Haikal Hassan kembali menegaskan gagasan “Halal is for all”. Pandangan ini menekankan bahwa halal bukan hanya milik umat Islam, tetapi dapat menjadi standar global yang relevan bagi seluruh masyarakat dunia.

Konsep ini semakin mendapat penerimaan luas karena produk berlabel halal identik dengan proses produksi yang bersih, bahan baku yang jelas, serta sistem pengawasan yang ketat. Hal ini menjadikan halal sebagai bagian dari gaya hidup modern yang mengutamakan kualitas dan keamanan.

Dengan perkembangan ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk berperan sebagai jembatan antara kebutuhan pasar global dan standar halal yang terpercaya.

Dari Sertifikasi Menuju Ekosistem Halal

Selama ini, halal sering dipersepsikan hanya sebatas proses sertifikasi. Padahal, ekosistem halal jauh lebih kompleks dan luas.

Ekosistem tersebut mencakup pendidikan, riset, audit, teknologi, logistik, rantai pasok, hingga kerja sama internasional. Karena itu, pengembangannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan lembaga global.

Masuknya isu halal ke ranah akademik internasional menunjukkan bahwa sektor ini telah menjadi bagian dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak tenaga ahli halal, auditor, peneliti, dan inovator yang mendukung industri halal masa depan.

Kolaborasi Akademik Internasional

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan pula kerja sama antara Silla University dan BIC Halal Korea. Kolaborasi ini mencakup penguatan riset, pengembangan pendidikan halal, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor halal global.

Kerja sama ini dinilai strategis karena pasar halal dunia terus berkembang pesat, termasuk di sektor makanan, kosmetik, farmasi, dan pariwisata. Korea Selatan sendiri melihat industri halal sebagai peluang besar untuk memperluas pasar globalnya.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini membuka ruang diplomasi baru sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem halal internasional.

Persaingan Industri Halal Global

Industri halal kini menjadi bagian dari persaingan ekonomi dunia. Banyak negara non-Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, hingga Brasil mulai mengembangkan produk dan layanan ramah halal.

Hal ini menunjukkan bahwa halal telah berubah menjadi standar global yang tidak hanya berkaitan dengan agama, tetapi juga dengan kualitas dan kepercayaan konsumen.

Dalam situasi ini, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Indonesia perlu tampil sebagai pusat inovasi, produsen utama, sekaligus penentu standar halal dunia.

Pentingnya SDM dalam Industri Halal

Salah satu aspek penting dalam pengembangan halal adalah sumber daya manusia. Tanpa SDM yang kompeten, sistem halal tidak dapat berjalan optimal.

Dibutuhkan tenaga ahli di bidang audit halal, laboratorium, teknologi pangan, hukum, hingga komunikasi internasional. Oleh karena itu, pendidikan halal menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di tingkat nasional maupun global.

Perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan kurikulum lintas disiplin untuk mendukung lahirnya generasi profesional di bidang halal.

Halal sebagai Soft Power Indonesia

Pengakuan akademik terhadap Haikal Hassan juga dapat dilihat sebagai bagian dari diplomasi halal Indonesia. Dalam hubungan internasional, halal dapat menjadi instrumen soft power yang memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

Melalui standar halal yang kredibel, Indonesia dapat memperluas kerja sama internasional, meningkatkan ekspor, serta memperkuat posisi industri nasional di pasar global.

Jika dikelola dengan baik, diplomasi halal dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi berbagai sektor, termasuk UMKM, industri makanan, kosmetik, farmasi, hingga pariwisata.

Tantangan ke Depan

Meski pengakuan internasional ini menjadi kebanggaan, Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan. Percepatan sertifikasi, peningkatan literasi halal, digitalisasi layanan, serta pengawasan produk masih perlu diperkuat.

UMKM juga perlu didorong agar memahami bahwa sertifikasi halal adalah bagian dari peningkatan daya saing, bukan sekadar kewajiban administratif.

Selain itu, kerja sama internasional harus menghasilkan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku industri dan masyarakat.

Momentum Baru bagi Indonesia

Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Ahmad Haikal Hassan menjadi simbol meningkatnya pengakuan dunia terhadap peran Indonesia dalam industri halal global. Lebih dari sekadar penghargaan akademik, momen ini menegaskan bahwa halal telah menjadi isu strategis yang mencakup ekonomi, pendidikan, riset, dan diplomasi internasional.

Dari Busan, Korea Selatan, Indonesia kembali menunjukkan potensinya sebagai salah satu pusat penting dalam ekosistem halal dunia. Tantangan berikutnya adalah mengubah pengakuan ini menjadi langkah konkret yang memperkuat posisi Indonesia di panggung global dan menjadikan halal sebagai kekuatan ekonomi masa depan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © 2026 UniversitasDiBandung.com
All rights reserved