Mengapa Rayap Suka Kayu? Ini Penjelasan Ilmiahnya
by Penulis, 10 Feb 2026
Rayap merupakan salah satu hama yang paling ditakuti oleh pemilik rumah di berbagai daerah, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Meskipun ukurannya kecil, dampak yang ditimbulkan bisa sangat besar, mulai dari kerusakan struktur bangunan hingga kerugian finansial yang tidak sedikit. Banyak orang bertanya-tanya, mengapa rayap begitu tertarik pada kayu? Padahal di sekitar rumah terdapat banyak material lain yang bisa saja menjadi sasaran. Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat dari sisi ilmiah, khususnya dari segi biologi dan perilaku rayap itu sendiri.
Jika sudah sangat menghawatirkan, basmi rayap menjadi langkah yang dicari ketika kerusakan sudah mulai terlihat, tetapi memahami alasan ilmiah dibalik ketertarikan rayap terhadap kayu menjadi sangat penting. Rayap dikenal sebagai pemakan selulosa, yaitu senyawa organik yang menjadi komponen utama penyusun dinding sel tumbuhan. Kayu merupakan sumber selulosa yang sangat melimpah. Selulosa sendiri tersusun dari rantai panjang molekul glukosa. Sebagian besar hewan tidak mampu mencerna selulosa secara langsung karena tidak memiliki enzim khusus. Namun, rayap memiliki keunikan biologis: di dalam ususnya terdapat mikroorganisme seperti bakteri dan protozoa yang mampu menghasilkan enzim untuk memecah selulosa menjadi gula sederhana. Gula inilah yang kemudian diolah menjadi energi bagi rayap untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Selain selulosa, kayu juga mengandung lignin, yaitu zat kompleks yang memberi kekuatan dan kekakuan pada struktur kayu. Beberapa jenis rayap memiliki kemampuan, melalui bantuan mikroba dalam sistem pencernaannya, untuk menguraikan lignin tersebut. Kombinasi kemampuan mencerna selulosa dan lignin membuat kayu menjadi sumber makanan yang sangat ideal bagi rayap. Dari sudut pandang ilmiah, kayu bukan sekadar material bangunan, melainkan “ladang makanan” yang kaya nutrisi bagi koloni rayap.
Rayap juga merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni besar dengan sistem pembagian tugas yang jelas, terdiri dari ratu, raja, rayap pekerja, dan rayap tentara. Ketika rayap pekerja menemukan sumber kayu yang kaya selulosa, mereka akan meninggalkan jejak feromon sebagai penanda kimia. Feromon ini berfungsi sebagai sinyal bagi rayap lain untuk mengikuti jalur yang sama menuju sumber makanan. Inilah sebabnya serangan rayap sering kali tampak tiba-tiba dan masif. Awalnya mungkin hanya satu titik kecil, tetapi dalam waktu singkat ribuan rayap dapat berkumpul dan menggerogoti kayu secara bersamaan.
Faktor lingkungan juga memainkan peran besar dalam ketertarikan rayap terhadap kayu. Rayap sangat menyukai kondisi yang lembab dan gelap. Kayu yang bersentuhan langsung dengan tanah atau berada di area dengan sirkulasi udara buruk cenderung memiliki tingkat kelembapan tinggi. Kelembaban ini tidak hanya memudahkan rayap bergerak dan bertahan hidup, tetapi juga mendukung kelangsungan mikroorganisme di dalam usus mereka. Tanpa lingkungan yang cukup lembab, rayap akan lebih sulit bertahan. Oleh karena itu, kayu pada fondasi rumah, kusen pintu yang lembab, atau rangka atap yang terkena rembesan air menjadi lokasi favorit bagi koloni rayap.
Tidak semua jenis kayu memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap serangan rayap. Kayu keras seperti jati atau ulin cenderung lebih tahan karena memiliki struktur serat yang lebih padat serta kandungan senyawa alami tertentu yang kurang disukai rayap. Sebaliknya, kayu lunak seperti sengon atau pinus lebih mudah ditembus dan dikonsumsi. Meski demikian, kayu keras pun tetap beresiko jika kondisi lingkungannya mendukung, misalnya berada ditempat yang lembab dalam waktu lama. Artinya, jenis kayu memang penting, tetapi faktor lingkungan tetap menjadi penentu utama.
Serangan rayap sering kali tidak langsung terlihat dari luar. Mereka biasanya menggerogoti bagian dalam kayu terlebih dahulu, menyisakan lapisan tipis di permukaan sehingga tampak utuh. Tanda-tanda awal bisa berupa suara kosong saat kayu diketuk, munculnya butiran tanah kecil di sekitar dinding atau lantai, atau kayu yang terasa rapuh saat ditekan. Kurangnya pemahaman tentang perilaku rayap membuat banyak orang terlambat menyadari serangan tersebut.
Dari perspektif ilmiah, ketertarikan rayap terhadap kayu bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Itu adalah hasil dari evolusi panjang yang memungkinkan mereka memanfaatkan selulosa sebagai sumber energi utama. Simbiosis antara rayap dan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya merupakan contoh hubungan biologis yang sangat efektif. Kolaborasi ini menjadikan rayap sebagai salah satu organisme pengurai paling efisien di alam, meskipun dalam konteks hunian manusia mereka justru menjadi ancaman serius.
Edukasi basmi rayap menjadi langkah penting untuk melindungi rumah dan bangunan dari kerusakan jangka panjang. Dengan memahami bahwa rayap menyukai kayu karena kandungan selulosa, dukungan mikroorganisme pencerna, serta kondisi lingkungan yang lembab, pemilik rumah dapat mengambil tindakan pencegahan yang lebih tepat. Mulai dari menjaga kelembaban ruangan, memperbaiki kebocoran air, memilih jenis kayu yang lebih tahan, hingga melakukan inspeksi rutin, semuanya berperan dalam meminimalkan risiko serangan. Pengetahuan ilmiah bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menjadi fondasi perlindungan efektif terhadap ancaman rayap yang sering kali bekerja secara diam-diam namun sangat merusak.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya